Capaian imunisasi nasional secara umum mengalami penurunan dan menjadi perhatian serius Komisi IX DPR RI. Berdasarkan data yang dipaparkan pemerintah dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan, tercatat sebanyak 32 provinsi belum mencapai target imunisasi rutin sebesar 80 persen, sementara hanya enam provinsi yang berhasil memenuhi target tersebut.
Anggota Komisi IX DPR RI, Sri Meliyana, menilai kondisi ini tidak bisa disederhanakan dengan hanya menyalahkan perubahan sistem pelaporan dari manual ke digital. Menurutnya, penurunan capaian imunisasi di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dan membutuhkan langkah khusus.
“Harus ada usaha khusus. Tidak bisa kita cuma menyalahkan sistem yang berubah. Harus ada kiat tertentu untuk mengangkat capaian imunisasi di 32 provinsi lainnya,” kata Sri Meliyana dalam rapat di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Legislator Fraksi Partai Gerindra ini menegaskan, angka 32 provinsi merupakan jumlah yang sangat besar dan tidak bisa dianggap wajar. Terlebih, imunisasi selama ini merupakan program kesehatan yang telah berjalan baik selama bertahun-tahun dan menjadi indikator penting pelayanan kesehatan masyarakat.
Ia mengingatkan agar pemerintah tidak lalai menjaga capaian imunisasi nasional. Menurutnya, kesalahan dalam pengelolaan sistem berpotensi membuat Indonesia mundur dalam program imunisasi yang selama ini menjadi rujukan, termasuk di tingkat internasional.
“Imunisasi ini program yang sudah bertahun-tahun berjalan baik. Jangan sampai kesalahan sistem justru membuat capaian kita mundur,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sri Meliyana menekankan bahwa digitalisasi sistem memang penting, namun harus disertai kebijakan afirmatif bagi daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia. Sistem manual, meski dinilai lambat dan ketinggalan zaman, tetap perlu dijalankan sebagai pendamping agar pelayanan imunisasi tidak terhambat.
“Walaupun dianggap repot atau ketinggalan zaman, daerah kita banyak yang terbatas. Jangan sampai imunisasi kalah oleh sistem digital,” pungkasnya.