Search
Close this search box.

Bambang Haryo Soekartono Dorong Pemerintah Genjot Pariwisata Berbasis Budaya di Lombok

Anggota Dewan Pakar Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya di Lombok, NTB. Itu untuk menaikan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara di daerah itu.

Politisi Gerindra itu menyayangkan potensi budaya di Lombok yang menjadi ciri khas daerah itu, kurang dimaksimalkan pemerintah. Padahal, jika dikembangkan dan dikemas dengan baik, akan menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara.

”Sebenarnya pariwisata berbasis kebudayaan di Lombok, punya potensi yang luar biasa. Dan seharusnya daerah tersebut kaya akan kebudayaan yang bisa dijadikan objek pariwisata budaya, salah satu misal tempat peristirahatan raja di Narmada yang dimiliki daerah tersebut, tidak dimiliki wilayah yang memiliki kerajaan. Dan potensi ini bila dikelola dg baik akan sangat menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke wilayah tersebut,” ujarnya Bambang, Rabu (3/7/2024).

Menurut Anggota Dewan Pakar Partai Gerindra itu seharusnya bisa ditambah dengan tari-tarian khas wilayah Lombok yang ditampilkan secara berjadwal. Turis yang saat ini ada ribuan di Gili Trawangan maupun di Bali akan berdatangan.

”Tolong pemerintah kota, provinsi, dan pusat, lebih memperhatikan pariwisata budaya. Karena seperti Thailand, turis asingnya bisa 4 kali lipat lebih banyak dari Indonesia yang hanya sekitar 12 juta turis per tahun. Wisata budaya negara tersebut bahkan sangat minim wisata alam. Demikian juga Prancis yang merupakan negara dengan turis asing terbesar di dunia bahkan pernah menyentuh tertinggi 250 juta turis per tahun lebih banyak mengeksplor budaya karena wisata alamnya sangat minim,” katanya.

Legislator Gerindra ini juga mengatakan, Lombok punya peluang yang sangat besar untuk menyerap turis dari Malaysia dan Arab Saudi. Sebab, wilayah tersebut bisa menampilkan pariwisata halal yang dilengkapi dengan wisata kebudayaan yang sangat kaya.

Seperti halnya Bali, turis mancanegara lebih menyukai wisata budaya daripada wisata alam, misalnya tari-tarian, upacara-upacara adat di tempat-tempat wisata alam yang selalu dipadukan dengan ritual upacara-upacara adat di Bali. Misalnya Bedugul, Uluwatu, Ubud, dan lain-lain.

”Saya berharap pemerintah tidak hanya fokus ke wisata alam saja tapi juga budayanya karena negara kita memiliki jumlah kerajaan dan suku yang terbanyak di seluruh dunia yang saat ini masih ada sekitar seratusan yang bisa dimanfaatkan turis mancanegara untuk menyerap dan mengeksplor budaya dari kerajaan tersebut,” pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp