Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menilai target penerimaan negara pada 2026 harus lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, sejumlah sektor strategis memiliki potensi besar untuk dioptimalkan, mulai dari industri pengolahan, ketahanan pangan, hingga perdagangan dan logistik.

“Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar, terutama dengan dukungan kebijakan hilirisasi pemerintah. Sektor kedua adalah ketahanan pangan yang harus memiliki rantai pasok kuat, serta sektor perdagangan dan bisnis turunan yang melibatkan transportasi dan logistik,” ujar Kamrussamad dalam program Beritasatu Spesial Pidato Presiden Prabowo Penyampaian Nota Keuangan & RAPBN 2026, Jumat (15/8/2025).

Ia menambahkan, sektor ekspor juga berperan vital. Komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, mineral, cengkeh, kakao, hingga perikanan memberi kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,2–5,8%. Untuk mencapainya, Kamrussamad menekankan pentingnya bauran kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.

“Fiskal adalah instrumen utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kebijakan moneter dan mikroprudensial harus dioptimalkan. Saat ini ada sekitar Rp14.000 triliun perputaran uang di industri keuangan,” jelasnya.

Kamrussamad juga menyoroti pentingnya penguatan pasar modal. Dengan transaksi harian mencapai Rp10–14 triliun, pasar modal memiliki efek transmisi ke sektor riil.

“Pasar modal kita harus tumbuh selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional,” pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
X
Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp