Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad

Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak bisa hanya diatasi melalui kebijakan moneter jangka pendek. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah merupakan dampak dari struktur ekonomi nasional yang selama dua dekade terakhir masih bergantung pada pembiayaan luar negeri berbasis valuta asing (valas).

“Kondisi ini terlihat dari neraca transaksi berjalan Indonesia yang dalam jangka panjang lebih sering mengalami defisit,” ujar Kamrussamad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Politisi Fraksi Partai Gerindra itu menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mata uang asing lainnya. Salah satunya dengan mengoptimalkan kembali skema Local Currency Settlement (LCS) yang telah disepakati Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang.

“Yang pertama harus dilakukan adalah mengaktifkan kembali Local Currency Settlement yang pernah ditandatangani dengan beberapa negara, termasuk China, Jepang, dan Malaysia. Ini penting untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan terhadap dolar,” katanya.

Menurut Kamrussamad, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral dapat mengurangi kebutuhan dolar AS dalam transaksi internasional, sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah saat ini juga harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan struktur ekonomi secara menyeluruh. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis valas, pemerintah perlu memperkuat sektor-sektor produktif yang mampu menghasilkan devisa secara berkelanjutan.

Kamrussamad juga mengapresiasi implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) yang diyakini dapat meningkatkan cadangan devisa nasional. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak kebijakan tersebut membutuhkan waktu untuk terlihat.

“Pemberlakuan devisa hasil ekspor yang mulai berjalan akan membantu meningkatkan cadangan devisa kita. Tapi semuanya memang perlu waktu,” ucapnya.

Ia meyakini kombinasi penguatan cadangan devisa, optimalisasi LCS, dan perbaikan struktur ekonomi nasional akan menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah berbagai tekanan ekonomi global.

“Kita harus memperkuat fondasi ekonomi kita sendiri. Kalau struktur ekonominya semakin kuat, maka rupiah juga akan lebih tahan menghadapi berbagai tekanan eksternal,” pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
X
Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp