Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), mendorong perluasan swasembada pangan nasional agar tidak hanya berfokus pada beras dan jagung, tetapi juga mencakup komoditas strategis lain seperti gula, bawang putih, dan kedelai.
“Saya mendorong swasembada gula, bawang putih, hingga kedelai,” ujar Titiek Soeharto, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, penguatan produksi dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor pangan. Upaya menekan impor, khususnya kedelai, harus dimulai dari peningkatan penanaman di dalam negeri agar kebutuhan bahan pangan seperti tempe dapat dipenuhi dari produksi petani nasional.
Titiek menegaskan bahwa keberhasilan swasembada beras pada 2025 harus menjadi modal optimisme untuk memperluas swasembada ke komoditas pangan lainnya. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam budidaya tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti, melainkan harus dijadikan pembelajaran melalui pendampingan dan riset.
Legislator Gerindra itu menilai Indonesia memiliki potensi bibit lokal yang sesuai dengan iklim dan kondisi tanah, sehingga tidak selalu bergantung pada bibit impor. Titiek berharap swasembada komoditas seperti bawang putih dan kedelai dapat dicapai secepat mungkin, mengingat tingkat impornya yang masih tinggi.
Percepatan swasembada pangan, tegasnya, harus diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat melalui peningkatan produksi dalam negeri, penguatan riset, serta sinergi antara pemerintah, petani, dan akademisi.
“Terutama bawang putih ya, impornya banyaki, yang menikmati impor-impor tuh kemarin udah kebanyakan. Jadi, udah sekarang kita bener-bener kerja untuk rakyat,” pungkasnya.