Anggota Komisi XI DPR RI Dapil Banten II, Annisa Mahesa

Tren investasi di kalangan anak muda terus berkembang seiring semakin mudahnya akses terhadap informasi dan produk investasi melalui platform digital. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko, salah satunya Fear of Missing Out (FOMO) atau keputusan berinvestasi karena takut tertinggal tren.

Hal ini menjadi perhatian Anggota Komisi XI DPR RI Dapil Banten II, Annisa Mahesa, saat memberikan edukasi keuangan kepada mahasiswa melalui program Lite-It! (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono.

Annisa mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan konten viral atau rekomendasi media sosial sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan investasi. Menurutnya, investasi harus diawali dengan kondisi keuangan yang sehat, seperti memiliki dana darurat dan menyelesaikan utang konsumtif.

“Jangan sampai kita kenal produknya dulu, tetapi belum kenal diri sendiri. Sebelum membeli, kita harus tahu uang ini untuk apa, kapan akan digunakan, dan seberapa besar risiko yang sanggup kita terima,” ujar Annisa.

Srikandi Gerindra itu juga mengingatkan calon investor untuk menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis. Artinya, investor harus memastikan produk atau pihak yang menawarkan investasi memiliki izin, sekaligus menilai apakah keuntungan yang dijanjikan masuk akal dibandingkan dengan resikonya.

Untuk menghindari keputusan impulsif akibat FOMO, Annisa menyarankan calon investor memberi jeda setidaknya 24 jam setelah menemukan rekomendasi investasi yang sedang viral. Ia juga mendorong mahasiswa mempertimbangkan tiga hal: risiko yang dihadapi, pihak yang mendapatkan keuntungan, serta kewenangan atau izin dari pihak yang memberikan rekomendasi.

“Kalau semua orang membeli sesuatu, itu bukan berarti kita juga harus membeli. Kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: saya membeli karena memang paham produknya atau karena takut ketinggalan?” katanya.

Annisa turut mengingatkan agar grup Telegram, WhatsApp, maupun komunitas digital tidak menjadi satu-satunya sumber analisis. Menurutnya, kebiasaan mengikuti keputusan mayoritas tanpa analisis mandiri dapat mendorong perilaku herding.

Ia mendorong edukasi keuangan bagi mahasiswa dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang dekat dengan Gen Z, seperti micro-learning, kompetisi, dan program sertifikasi. Literasi keuangan juga dinilai perlu membekali anak muda untuk mengenali bias perilaku seperti FOMO, herding, overconfidence, dan loss aversion.

“Anak muda sekarang punya akses informasi yang luar biasa besar. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memilah informasi dan mengambil keputusan dengan kepala dingin,” tutur Annisa.

Melalui program Lite-It!, Annisa berharap mahasiswa tidak hanya memahami berbagai instrumen investasi, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang sehat.

“Investasi itu bukan perlombaan siapa yang paling cepat ikut tren. Yang penting kita tahu apa yang kita lakukan dan siap dengan resikonya. Jangan sampai karena takut ketinggalan, justru kita kehilangan uang yang sudah susah payah kita kumpulkan,” pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
X
Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp