Penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kunci keberlanjutan dan daya saing industri manufaktur furnitur. Dalam kunjungan kerja spesifik ke perusahaan furniture, Komisi VII DPR RI menekankan pentingnya keterhubungan antara kebutuhan industri dan sistem pendidikan vokasi agar ketersediaan tenaga kerja terampil dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menegaskan perlunya kebijakan yang mendorong keselarasan dunia pendidikan dengan kebutuhan riil industri. Menurutnya, skema pelatihan dan vokasi harus melibatkan sektor swasta agar benar-benar menjawab kebutuhan tenaga kerja.
“Jika sekolah vokasi belum mampu memberikan beasiswa, saya berharap pihak swasta yang membutuhkan tenaga kerja bisa mendukung program beasiswa vokasi bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar politisi yang akrab disapa Sara saat memimpin rapat di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/1/2029).
Sara menilai keterlibatan industri dalam pendidikan vokasi akan memperkuat rantai pasok tenaga kerja sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas. Kemitraan industri dan lembaga pendidikan dipandang penting agar lulusan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar.
Selain isu SDM, Sara juga menyoroti penerapan prinsip industri hijau di sektor furnitur. Menurut Sara, keberlanjutan tidak cukup hanya melalui sertifikasi, tetapi perlu didukung insentif dan kebijakan yang konkret.
“Tidak hanya sekedar sertifikasi industri hijau, tetapi juga perlu ada insentif dan dukungan yang jelas agar pelaku industri terdorong menerapkannya,” ucap Srikandi Gerindra itu.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi VII juga membahas isu bahan baku, efisiensi produksi, serta perluasan akses pasar dan ekspor. Seluruh masukan ini akan menjadi bahan penguatan kebijakan dan regulasi sektor perindustrian guna mendorong industri furnitur nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, dan inklusif.