Anggota Komisi VI DPR RI, Mulyadi, mempertanyakan Kepala BP Batam terkait dugaan keberadaan dua kapal tanker ilegal, MT Arman 114 berbendera Iran dan MT Stinos berbendera Kamerun, yang diduga telah berada hampir dua tahun di perairan sekitar Batam.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kedua kapal tersebut membawa sekitar 1,6 juta barel minyak mentah. Karena itu, Mulyadi mendesak BP Batam segera membentuk tim khusus untuk mengusut keberadaan dan aktivitas kapal-kapal tersebut.

“Itu konon ada 1,6 juta barel minyak. Kalau Bapak tidak tahu, tolong bentuk tim khusus. Ini membahayakan Batam,” tegas Mulyadi dalam rapat kerja Komisi VI dengan BP Batam di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/7/2025).

Mulyadi merujuk pada laporan Kompas terkait penangkapan kapal MT Arman 114 oleh Bakamla RI pada 7 Juli 2023. Saat itu, Kepala Bakamla RI Laksamana Madya Aan Kurnia menyampaikan bahwa kapal tersebut terlibat dalam pemindahan minyak ilegal ke MT Stinos di perairan Laut Natuna Utara. Saat patroli Bakamla mencoba menghubungi, kedua kapal tidak merespons dan sempat melarikan diri hingga ke wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia.

Politisi Fraksi Partai Gerindra itu juga mengingatkan risiko besar jika kapal tanker tersebut mengalami kebocoran. Pencemaran laut, menurutnya, bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi memicu konflik diplomatik dengan negara tetangga dan mencoreng citra Batam sebagai wilayah investasi dan pariwisata.

“Kalau terbukti bermasalah dan kapalnya bocor, saya kira lebih baik disita untuk negara daripada membahayakan lingkungan dan hubungan antarnegara,” ujarnya.

Untuk itu, Mulyadi meminta perhatian serius dari pimpinan Komisi VI guna menindaklanjuti dugaan tersebut dan memastikan tidak ada ancaman keamanan maupun kerugian negara akibat aktivitas ilegal di wilayah perairan Batam.

Facebook
Twitter
WhatsApp
X
Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp