Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menegaskan bahwa pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur di Bali harus memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mendorong Indonesia menjadi destinasi wisata kesehatan kelas dunia.
Hal itu disampaikannya dalam Kunjungan Kerja Masa Reses Komisi VI DPR RI ke Provinsi Bali.
Menurut Andre, KEK Sanur yang diproyeksikan sebagai pusat layanan kesehatan internasional diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri seperti Penang, Kuala Lumpur, atau Singapura.
“Intinya, KEK Sanur ini dibuat agar devisa negara tidak terus keluar. Supaya masyarakat Indonesia tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. Karena itu, dibangunlah KEK Sanur sebagai pusat layanan kesehatan internasional,” ujar Andre usai memimpin kunjungan di Kota Denpasar, Jumat (3/10/2025).
Legislator asal Sumatera Barat ini menjelaskan, konsep KEK Sanur tidak hanya menyiapkan rumah sakit berstandar internasional, tetapi juga berbagai fasilitas pendukung seperti hotel, transportasi, hingga paket layanan kesehatan terpadu. Ia menekankan pentingnya pelayanan yang kompetitif agar mampu menandingi fasilitas kesehatan luar negeri.
“Harapannya, orang Indonesia bisa berobat di Sanur. Jadi bukan hanya rumah sakitnya yang disiapkan, tapi juga akomodasi, transportasi, hingga paket layanan dengan diskon hotel dan tiket pesawat. Semua sedang diatur agar pelayanannya lebih baik,” jelasnya.
Salah satu layanan unggulan yang disiapkan adalah Klinik Stem Cell, hasil kerja sama dengan Prof. Fred, Direktur Alster Lake Clinic (ALC) Jerman. Saat ini, pasien Indonesia harus membayar sekitar Rp500–600 juta untuk terapi stem cell di Hamburg. Namun, ketika klinik di KEK Sanur resmi beroperasi pada Februari 2026, biayanya diperkirakan hanya sekitar Rp300 juta.
“Kalau nanti kliniknya dibuka Februari 2026, Insya Allah biaya pengobatan hanya setengahnya, sekitar Rp300 juta. Ini menunjukkan bahwa KEK Sanur akan kompetitif,” ungkap Andre.
Dalam diskusi bersama anggota Komisi VI DPR RI, termasuk dari daerah pemilihan Bali, turut dibahas tantangan infrastruktur pendukung, seperti kapasitas Bandara Ngurah Rai dan kemacetan akses keluar-masuk bandara. Andre menilai, rekayasa lalu lintas dan perencanaan matang sangat diperlukan agar KEK Sanur benar-benar mampu mendukung pertumbuhan pariwisata kesehatan tanpa menambah beban transportasi di Bali.
“Lahan di Bali terbatas, sementara wisatawan terus bertambah, baik domestik maupun mancanegara. Maka perlu rekayasa lalu lintas agar tidak menimbulkan kemacetan,” tutupnya.