Musim kemarau panjang telah menimbulkan krisis air bersih yang serius di Kabupaten Samosir, khususnya di wilayah perbukitan dan dataran tinggi. Kondisi paling terdampak dialami warga di enam desa, yakni Huta Natinggi, Sijambur, Pemutaran, Hutaginjang, Hutadame, dan Pardomuan Nauli.

Kekeringan ini bukan hanya mengganggu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membuat aktivitas pertanian terhenti dan proses belajar-mengajar di sekolah terganggu. Warga mengaku harus membeli air bersih dengan harga tinggi, mencapai Rp250.000 per drum, untuk kebutuhan sepekan. Selain memberatkan, mereka pun harus turun dari bukit menuju kota untuk mendapatkan pasokan air tersebut.

Menanggapi laporan warga, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra dari Dapil Sumut II, Sabam Rajagukguk, langsung menyalurkan bantuan air bersih. Distribusi dilakukan dengan mobil tangki, menyasar langsung rumah-rumah warga mengingat jarak antar permukiman yang cukup jauh.

“Distribusi dari rumah ke rumah adalah langkah paling efektif, karena jika warga dikumpulkan di satu titik justru akan menyulitkan mereka membawa air kembali ke rumah,” jelas Sabam, Kamis (21/8/2025).

Selain menyalurkan bantuan, Sabam juga mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan upaya mitigasi jangka panjang. Menurutnya, pembangunan sumur artesis, menara air, dan sistem pipa gravitasi perlu segera direalisasikan agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi krisis serupa setiap musim kemarau panjang.

Masyarakat menyambut baik kehadiran bantuan tersebut dan berharap aspirasi mereka dapat ditindaklanjuti secara berkelanjutan demi menjamin ketersediaan air bersih.

Facebook
Twitter
WhatsApp
X
Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp