Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menilai bahwa banyaknya hari libur nasional di Indonesia memang berpengaruh terhadap produktivitas, namun di sisi lain memberikan dampak positif bagi perekonomian, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ada pengaruh terhadap produktivitas, tapi masyarakat juga butuh waktu untuk beristirahat. Libur yang cukup itu penting,” ujar Bambang Haryo, Sabtu (7/6/2025).

Ia mencontohkan beberapa negara seperti Swiss yang menerapkan sistem kerja yang lebih ringan.

“Ada negara yang bahkan libur Jumat hingga Minggu, dan jam kerjanya hanya lima jam per hari. Jadi, ini soal efisiensi dan keseimbangan,” tambahnya.

Menurut Bambang, jumlah hari libur nasional di Indonesia masih dalam batas wajar dan tidak terlalu membebani sistem kerja nasional. Justru, momentum libur dapat mendorong perputaran uang di masyarakat.

“Liburan mendorong konsumsi, terutama di sektor pariwisata dan UMKM. Ini menciptakan pergerakan ekonomi yang signifikan,” jelasnya.

Ia mencatat bahwa UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, jauh lebih besar dibandingkan industri manufaktur yang hanya sekitar 18 persen. Selain itu, UMKM juga menyerap hingga 97 persen tenaga kerja nasional.

“Dengan libur yang cukup banyak, UMKM justru bisa berkembang karena ada peningkatan konsumsi masyarakat,” ucapnya.

Meski begitu, ia mengakui bahwa industri padat karya bisa terdampak oleh banyaknya hari libur. Namun, kontribusinya terhadap PDB dan serapan tenaga kerja masih tergolong kecil dibandingkan UMKM.

“Yang penting adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Dan saat ini, saya kira Indonesia sudah berada di jalur yang cukup baik,” tutup Bambang.

Facebook
Twitter
WhatsApp
X
Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp