Search
Close this search box.

Yan Mandenas: Empat Pilar Kebangsaan Sebagai Tiang Penyangga Persatuan

Anggota MPR RI dari Fraksi Gerindra, Yan Mandenas melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di hadapan masyarakat Timika, Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Selasa (25/4/2023). Yan menyebut empat pilar kebangsaan sebagai tiang penyangga persatuan dan penuntun kehidupan sehari-hari.

Yan awalnya menceritakan bagaimana sejarah lahirnya sosialisasi empat pilar. Menurutnya, itu dimulai sejak terendusnya ideologi transnasional yang coba menggantikan Pancasila.

“Ada ideologi transnasional yang coba menggatikan ideologi Pancasila. Ideologi transnasional ini kalau tidak dibendung, maka akan menggantikan dasar negara yang disepakati para pendiri bangsa. Untuk itu, sejak 2012, gerakan sosialisasi empat pilar kebangsaan dimulai untuk mempertegas kembali bahwa Pancasila adalah dasar negara,” jelas Yan.

Kemudian Yan menyebut empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Negara Indonesia memiliki empat pilar kebangsaan yang menjadi tiang penyangga keutuhan bangsa. Empat pilar kebangsaan itu adalah  Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara” ungkap Legislator asal Papua ini.

Anggota Komisi I DPR RI itu menjelaskan juga, empat pilar kebangsaan sebagai penuntun kehidupan warga. Sebab menurutnya, di dalam empat pilar kebangsaan terkandung nilai-nilai yang sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia.

“Dalam empat pilar kebangsaan terkandung nilai yang bisa menjadi penuntun kita sebagai warga negara. Empat pilar kebangsaan mengandung nilai, seperti gotong royong, berkerja sama, bermusyawarah, persatuan, toleransi, berkeadilan. Nilai ini menjadi penerang kita dalam membangun hubungan sosial yang baik,” kata Yan.

Secara khusus, Yan berharap orang muda Papua mewujudnyatakan nilai-nilai yang ada dalam empat pilar kebangsaan.

“Sebanyak 2,6 juta penduduk atau 60 persen lebih masyarakat Papua adalah anak muda. Saya berharap anak muda ini, memiliki karakter pancasialis dan berwawasan luas. Anak muda Papua harus menjadi penentu kemajuan Papua di masa depan,” imbuh Yan.

Lebih lanjuit, Yan menjelaskan bahwa dengan kepemilikan Freeport 51,2 persen oleh negara, pemerintah Indonesia menginginkan agar Freeport memiliki dampak ekonomi yang besar terhadap masyarakat Papua, khususnya Timika.

“Indonesia mengambil sebagian besar saham Freeport yaitu 51,2 persen, selain untuk menegakan kedaulatan negara, juga supaya Freeport bisa memberikan dampak ekonomi yang besar untuk masyarakat Timika,” tegas Yan.

Ekonomi Mimika, jelas Yan, sebagian besar masih bertumpu pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Ini menandakan bahwa kehadiran sektor pertambangan membantu perekonimian Mimika.

“Sumbangan terbesar pertumbuhan ekonomi Mimika dari sektor lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Sektor pertambangan memberikan dampak yang baik terhadap perekonomian Mimika,” tutup Yan.

Facebook
Twitter
WhatsApp