Upaya menyiapkan generasi penerus petani mulai dilakukan dengan cara berbeda di Bantul. Siswa tidak lagi hanya belajar teori, tetapi langsung turun ke lahan untuk merasakan pengalaman bertani sejak dini.
Program ini telah diterapkan di puluhan sekolah, termasuk di SLB Bina Anggita. Para siswa diajak menanam dan merawat tanaman hortikultura dengan pendampingan dari pemerintah daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, mengatakan setiap sekolah mendapat bantuan 150 bibit cabai, 150 tomat, dan 150 terong untuk praktik langsung.
“Ini bentuk pengenalan pertanian sejak dini, siswa langsung terjun ke lapangan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Saat ini program telah menjangkau 32 sekolah, meski belum merata. Pemerintah daerah menargetkan perluasan secara bertahap, namun masih terkendala anggaran.
Wakil Ketua DPRD Bantul, Titis Ajeng Ganis Mareti, menilai pendekatan praktik langsung efektif untuk mengubah persepsi siswa terhadap pertanian. Menurutnya, keterlibatan di lapangan membuat anak lebih mudah memahami sekaligus tertarik pada sektor tersebut.
“Program seperti ini harus sering dilakukan agar anak melihat bertani sebagai kegiatan yang menyenangkan,” ucapnya.
Srikandi Gerindra itu menambahkan, program ini juga menjadi solusi atas minimnya regenerasi petani. Dengan dikenalkan sejak dini, diharapkan muncul minat baru dari generasi muda.
“Ini bukan sekadar pengenalan, tapi pengalaman langsung. Anak-anak diajak menanam dan merasakan bahwa pertanian itu menarik serta punya masa depan,” katanya.
Menurutnya, langkah ini penting sebagai investasi jangka panjang agar sektor pertanian tetap berkelanjutan.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada generasi lama. Regenerasi harus disiapkan dari sekarang,” tegasnya.
Melalui program ini, diharapkan citra pertanian di mata siswa menjadi lebih modern dan menjanjikan sebagai peluang masa depan.