Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bantul, Titis Ajeng Ganis Mareti, menilai program pengenalan sektor pertanian pada anak usia dini yang digagas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul perlu mendapat dukungan penuh. Program ini dinilai sejalan dengan visi ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto.
Sebagaimana diketahui, DKPP Bantul mulai tahun 2026 menggulirkan program pengenalan sektor pertanian bagi anak usia dini, mulai dari jenjang SD hingga SMP.
“Program pengenalan sektor pertanian pada anak usia dini yang dilaksanakan DKPP Kabupaten Bantul merupakan program unggulan yang selaras dengan kebijakan pemerintah pusat. Ini menjadi tonggak penting menuju swasembada pangan di daerah,” ujar Titis, Selasa (7/4/2026).
Politisi Partai Gerindra tersebut mengungkapkan, Kabupaten Bantul memiliki potensi besar sebagai pengembangan lumbung pangan. Berdasarkan data DKPP, saat ini terdapat sekitar 13.720 hektare Lahan Baku Sawah (LBS) yang menjadi modal utama dalam mewujudkan swasembada pangan ke depan.
Menurutnya, program pengenalan pertanian sejak dini juga penting untuk mendorong regenerasi di sektor pertanian. Ia menilai minat generasi muda terhadap dunia pertanian perlu terus ditumbuhkan, mengingat ke depan sektor ini membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan adaptif terhadap teknologi.
“Pada akhirnya, SDM menjadi penentu keberhasilan sebuah program. Edukasi pertanian perlu diberikan sejak dini, bukan untuk memaksa anak-anak menjadi petani, tetapi agar Indonesia tidak kekurangan SDM unggul di sektor ini,” jelasnya.
Titis berharap ke depan lahir generasi yang memiliki keahlian di bidang pertanian, khususnya dalam penguasaan teknologi. Hal tersebut diyakini dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi kerja di sektor pertanian.
“Kita butuh generasi yang menguasai teknologi pertanian. Dengan begitu, produksi bisa meningkat, pekerjaan lebih efisien, dan hasilnya lebih optimal,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Bantul memiliki peran strategis sebagai penyangga kebutuhan pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan, sejumlah wilayah seperti Kretek dan Sanden dikenal sebagai pemasok komoditas hortikultura, khususnya bawang merah dan cabai.