Anggota Komisi IV DPR RI, Sumail Abdullah, mendukung langkah pemerintah memperkuat cadangan beras nasional di tengah ancaman El Nino ekstrem dan tekanan pangan global.
Menurut Sumail, stok beras pemerintah yang mencapai 4,6 juta ton merupakan modal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, besarnya cadangan beras tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran dalam melihat kekuatan sistem pangan Indonesia.
“4,6 juta ton beras di gudang hanya akan benar-benar menjadi benteng pangan apabila mampu menjamin pasokan dan menjaga harga tetap terjangkau ketika tekanan iklim semakin kuat,” kata Sumail, Jumat (18/9/2026).
Legislator Fraksi Partai Gerindra itu menilai ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah stok yang tersedia, tetapi juga oleh keberlangsungan produksi petani, ketersediaan air, kelancaran distribusi, serta daya beli masyarakat.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak beras yang tersimpan. Kita juga harus memastikan produksi petani tetap berjalan, air tersedia, distribusi tidak terganggu, dan masyarakat tetap mampu membeli beras dengan harga yang wajar,” ujarnya.
Karena itu, Sumail meminta pemerintah memperkuat langkah antisipasi di sektor produksi pertanian. Ketersediaan air, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting yang harus mendapat perhatian serius ketika El Nino berpotensi menekan produktivitas pertanian.
“Stok yang besar memang penting, tetapi jangan sampai kita terlambat mengantisipasi produksi. Kalau sumber air terganggu dan petani mengalami kesulitan menanam, tekanan terhadap pangan bisa muncul pada periode berikutnya,” ucapnya.
Selain produksi, Sumail menekankan pentingnya memastikan distribusi beras tetap lancar. Cadangan pangan pemerintah harus dapat digunakan secara tepat dan cepat ketika terjadi gangguan pasokan maupun kenaikan harga di daerah.
“Cadangan pemerintah harus benar-benar siap digunakan sebagai penyangga. Jangan sampai stok ada di gudang, tetapi masyarakat di daerah tertentu justru mengalami kesulitan mendapatkan beras,” ungkapnya.
Ia juga mendorong penguatan koordinasi pemerintah pusat dan daerah untuk memetakan wilayah yang berpotensi terdampak El Nino. Pemetaan tersebut diperlukan agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat sebelum gangguan produksi berkembang menjadi persoalan pangan yang lebih besar.
“Antisipasi harus dilakukan dari sekarang. Kita perlu tahu daerah mana yang berpotensi mengalami kekeringan, bagaimana kondisi produksi petaninya, dan bagaimana distribusi pangan ke wilayah tersebut,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan stok beras pemerintah di gudang Perum Bulog mencapai 4,6 juta ton hingga September 2026.
Amran menyebut stok tersebut menjadi modal penting menghadapi berbagai tekanan global, termasuk krisis pangan, energi, air, serta ancaman El Nino ekstrem. Ia mengatakan stok beras pemerintah masih dalam kondisi aman meski sektor pertanian menghadapi tantangan akibat fenomena tersebut.
“Bahkan ada El Nino yang sangat ekstrem, ini terberat menurut BMKG. Namun, stok beras kita masih aman,” kata Amran di Jakarta, Kamis.
Stok beras pemerintah pada September 2026 meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada September 2025, stok tercatat 3,9 juta ton, sedangkan pada September 2026 mencapai 4,6 juta ton atau meningkat sekitar 18 persen.
Sumail menilai kondisi tersebut perlu dipertahankan dengan memastikan penguatan cadangan berjalan beriringan dengan perlindungan produksi petani, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga agar kekuatan stok ini berkelanjutan. Jangan hanya kuat hari ini, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat ketika produksi menghadapi tekanan,” pungkasnya.