Anggota Komisi V DPR RI, Sriyanto Saputro, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sragen di Kecamatan Mondokan, Senin (3/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menemukan jumlah siswa yang telah terdaftar baru mencapai 285 orang, jauh di bawah kapasitas sekolah yang mampu menampung hingga 1.800 siswa.
Sriyanto datang bersama Wakil Ketua DPRD Sragen, Wahyu Dwi Setyaningrum, dan disambut Kepala SRT 1 Sragen, Giyatno, beserta jajaran guru dan pelaksana proyek pembangunan sekolah.
Sriyanto mengatakan dirinya telah mengikuti proses pembangunan SRT sejak tahap perencanaan, saat pemerintah daerah masih mencari lokasi pembangunan sebelum akhirnya diputuskan berada di Kecamatan Mondokan.
“Saya awalnya mendapat laporan dari Bupati mengenai perkembangan SRT. Saya ingin melihat langsung kondisi bangunan sekaligus akses menuju sekolah. Sejak awal saya ikut mendorong agar Sragen memiliki Sekolah Rakyat Terintegrasi,” ujar Sriyanto.
Ia mengungkapkan, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo sebelumnya sempat merencanakan perbaikan akses jalan menuju sekolah melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD). Namun, setelah meninjau langsung, Sriyanto menilai kondisi jalan masih baik sehingga perhatian saat ini lebih difokuskan pada penyelesaian pembangunan gedung dan fasilitas pendukung.
“Setelah saya cek, pembangunan gedung sudah hampir 100 persen, tinggal tahap finishing dan penyempurnaan. Fasilitas belajar, asrama siswa, hingga sarana pendukung untuk guru juga sudah tersedia,” katanya.
Meski demikian, Sriyanto menyoroti masih rendahnya jumlah peserta didik yang terdaftar. Berdasarkan laporan pihak sekolah, saat ini baru terdapat 285 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA, sementara kapasitas sekolah mencapai sekitar 1.800 siswa.
Legislator Gerindra itu berharap masyarakat, khususnya keluarga yang masuk Desil 1 dan Desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dapat memanfaatkan program Sekolah Rakyat Terintegrasi sebagai kesempatan memperoleh pendidikan gratis dengan fasilitas yang memadai.
“SRT ini merupakan peluang besar bagi masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Setahun lalu baru sebatas usulan, sekarang sudah berdiri megah. Saya sampai pangling melihat perkembangannya. Tinggal penyempurnaan dan yang terpenting sekarang adalah bagaimana sekolah ini bisa dimanfaatkan secara optimal,” ungkapya.
Sementara itu, Kepala SRT 1 Sragen, Giyatno, membenarkan jumlah siswa yang saat ini terdaftar baru mencapai 285 orang, termasuk peserta didik dari Rintisan SRT 78 Sragen yang sebelumnya mengikuti kegiatan belajar di Balai Latihan Kerja (BLK) Sragen. Menurutnya, pihak sekolah terus melakukan sosialisasi agar semakin banyak masyarakat memanfaatkan program pendidikan tersebut.