Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembenahan badan usaha milik negara (BUMN) dan penguatan industri strategis nasional merupakan bagian dari upaya mewujudkan Indonesia yang makmur. Hal itu disampaikannya saat meresmikan lima bendungan secara terpusat di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7/2026).
Presiden mengungkapkan, sejumlah BUMN yang selama puluhan tahun mengalami kerugian kini mulai mencatatkan keuntungan berkat langkah pembenahan yang dilakukan pemerintah.
“Saya mendapat laporan bahwa beberapa BUMN yang sekian puluh tahun rugi, tahun ini mulai untung,” ujar Presiden.
Prabowo mengaku terkejut setelah mengetahui jumlah BUMN di Indonesia mencapai 1.077 perusahaan, termasuk berbagai anak hingga cucu perusahaan. Menurutnya, struktur tersebut perlu ditertibkan agar pengelolaan keuangan negara menjadi lebih transparan dan efisien.
Dalam proses penataan itu, pemerintah telah menutup ratusan BUMN yang dinilai tidak sehat dan terus merugi.
“Sampai akhir Juli akan ada 250 BUMN yang ditutup. Targetnya, hingga 31 Desember 2026 sebanyak 800 BUMN yang tidak efisien dan terus merugi akan kita tutup,” tegas Presiden.
Presiden menyebut langkah tersebut telah menghasilkan penghematan besar, termasuk dari efisiensi biaya operasional dan pengurangan beban manajemen yang nilainya mencapai sekitar Rp70 triliun.
Selain melakukan reformasi BUMN, Presiden juga memastikan pemerintah tidak akan melepas perusahaan-perusahaan strategis kepada pihak asing. Sebaliknya, pemerintah berkomitmen memperkuat industri nasional seperti PT PAL, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
“Banyak perusahaan strategis yang tadinya mau dijual ke asing saya larang. Sekarang kita bangkitkan semuanya,” katanya.
Presiden mencontohkan, PT PAL kini telah mampu memproduksi kapal perang hingga kapal selam, sementara PT Pindad berhasil memperoleh kontrak pengadaan senjata dari Arab Saudi. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan industri pertahanan nasional semakin kompetitif di tingkat global.
Prabowo juga menyampaikan bahwa pembenahan mulai membuahkan hasil di sektor penerbangan. Maskapai Garuda Indonesia, yang sebelumnya terus merugi, disebut mulai menunjukkan kinerja positif.
“Garuda sekarang sudah mulai bangkit. Bulan depan sudah mulai untung setelah sekian puluh tahun merugi,” ucapnya.
Di bidang penguatan ekonomi nasional, Presiden turut menyoroti keberadaan Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia. Menurutnya, dana tersebut menjadi instrumen penting untuk menghimpun kekuatan ekonomi nasional dan mendukung pembiayaan pembangunan secara berkelanjutan.
“Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, kita memiliki sovereign wealth fund sendiri, yaitu Danantara. Dana ini adalah kekuatan ekonomi rakyat Indonesia yang kita satukan untuk membangun bangsa,” pungkas Presiden.