Anggota Komisi XIII DPR RI, Adik Sasongko, melakukan kunjungan kerja ke Gudang Perum Bulog Telukan, Sukoharjo, Selasa (5/5/2026), untuk memastikan ketahanan pangan dan ketersediaan stok beras bagi masyarakat Solo Raya tetap aman di tengah tantangan iklim El Nino.
Dalam kunjungan masa reses tersebut, Adik meninjau langsung kondisi pergudangan, penyerapan hasil panen petani, serta kesiapan distribusi beras untuk kebutuhan bantuan pangan dan stabilisasi harga.
“Kami memastikan ketersediaan stok beras di Solo Raya tetap aman di tengah tantangan El Nino. Stok tersedia, penyerapan gabah petani berjalan baik, dan kebutuhan bantuan pangan juga terpenuhi,” ujarnya.
Legislator Gerindra itu menilai kondisi tersebut menunjukkan peran strategis Bulog dalam menjaga ketersediaan, distribusi, dan stabilitas harga pangan, sekaligus menopang ketahanan ekonomi daerah di tengah perubahan iklim.
Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo yang turut mendampingi kunjungan tersebut menyampaikan bahwa Bulog telah melakukan langkah antisipatif dengan menyerap hasil panen petani secara maksimal.
Menurutnya, pengelolaan stok di Gudang Bulog Telukan juga berjalan efektif melalui penerapan sistem First In First Out (FIFO), sehingga perputaran beras tetap terjaga. Dari total stok yang ada, hanya sekitar 180 ton yang merupakan stok tahun sebelumnya.
“Stok aman hingga akhir tahun. Bahkan Bulog sampai menyewa gudang swasta untuk menampung hasil serapan. Ini menunjukkan kesiapan menghadapi tantangan seperti El Nino,” ujar Eko.
Ia juga mengapresiasi fasilitas pengolahan di Gudang Telukan yang mampu menghasilkan beras premium, sehingga kualitas beras yang disalurkan kepada masyarakat tetap terjaga, baik untuk bantuan pangan maupun stabilisasi harga.
Sementara itu, Pemimpin Cabang Bulog Surakarta Nanang Haryanto menjelaskan total stok beras di wilayah Solo Raya saat ini mencapai 80.000 ton. Cadangan tersebut tersebar di sembilan kompleks pergudangan Bulog dan sembilan gudang swasta yang disewa akibat tingginya volume serapan.
“Realisasi penyerapan sudah mencapai 62 persen atau sekitar 58.000 ton dari target 93.000 ton. Mayoritas stok merupakan hasil pengadaan tahun 2026,” jelasnya.
Meski harga gabah di tingkat petani berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni sekitar Rp7.000 hingga Rp7.400 per kilogram, Bulog tetap berkomitmen menyerap hasil panen sebagai bentuk perlindungan bagi petani.
Di sisi lain, Bulog juga terus menyalurkan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga keterjangkauan harga.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Beras SPHP dijual Rp11.000 di gudang dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram di konsumen. Dengan stok 80.000 ton, kebutuhan bantuan pangan dan pasar murah sangat tercukupi hingga tahun depan,” pungkasnya.