Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI menekankan pentingnya diplomasi parlemen dalam menyuarakan kepentingan nasional dan aspirasi masyarakat Indonesia di panggung internasional. Keberhasilan diplomasi parlemen tidak semata diukur dari banyaknya forum internasional yang diikuti, tetapi dari sejauh mana kepentingan Indonesia dapat diakomodasi dalam berbagai forum tersebut.
“Boleh dikatakan bahwa tujuan ataupun KPI kita di BKSAP adalah bukan banyaknya forum yang kita ikuti. Dalam satu tahun mungkin ada kurang lebih 30 atau 40 forum internasional. Tapi capaian kita itu bukan banyaknya forum yang kita ikuti, tapi bagaimana aspirasi dari masyarakat Indonesia, aspirasi dari pemerintah yang mencerminkan kepentingan masyarakat Indonesia itu bisa disampaikan di dalam forum internasional,” ujar Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Muhammad Husein Fadlulloh, dalam acara BKSAP Day di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang, Selasa (6/10/2026).
Husein menjelaskan, diplomasi parlemen memiliki ruang yang cukup fleksibel, khususnya melalui pertemuan bilateral yang berlangsung di sela-sela forum internasional. Menurutnya, momentum tersebut menjadi kesempatan penting untuk membangun komunikasi dan memperjuangkan kepentingan Indonesia secara langsung dengan parlemen negara lain.
“Pada saat sidang, ada break, ada reses, biasanya ada beberapa negara menginginkan adanya pertemuan bilateral. Nah, di situlah sebetulnya komunikasi dan urgensi yang sebenarnya dimulai,” kata Legislator Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Ia menegaskan, kepentingan nasional harus menjadi prioritas dalam setiap pertemuan bilateral. BKSAP, kata Husein, perlu melihat kepentingan masing-masing negara sekaligus memastikan adanya manfaat yang dapat diperoleh Indonesia.
“Pada saat kita mengadakan bilateral meeting, kita harus mikir apa yang nanti mereka inginkan dari kita, dan apa yang kita dapatkan untuk kepentingan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Melalui kegiatan BKSAP Day, BKSAP DPR RI juga berupaya mendekatkan diplomasi parlemen dengan dunia akademis. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas pemahaman mengenai dinamika global sekaligus memperkuat kontribusi parlemen dalam merespons berbagai isu internasional.