Anggota Komisi V DPR RI, Sriyanto Saputro, meminta pemerintah segera menyiapkan solusi untuk menjaga kelancaran distribusi logistik ke Papua Pegunungan di tengah gangguan penerbangan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena transportasi udara menjadi salah satu jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi kebutuhan pokok di wilayah Papua Pegunungan.
“Terkait dengan karhutla, hal ini perlu dipantau dalam waktu dekat. Jika kondisi tersebut berdampak pada jalur udara, termasuk distribusi atau dropping kebutuhan seperti makanan dan bahan bangunan yang tidak dapat dilakukan, perlu dicarikan solusi,” tegas Sriyanto dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi V DPR RI bersama para pemangku kepentingan di Wamena, Papua Pegunungan, Senin (12/10/2026).
Gangguan kabut asap dilaporkan menyebabkan penerbangan dari Jayapura menuju Wamena terkendala. Kondisi ini berpotensi menghambat aktivitas masyarakat dan distribusi berbagai kebutuhan, terutama karena jalur darat Trans Papua belum sepenuhnya layak menjadi alternatif transportasi.
Sriyanto menilai, kondisi geografis dan karakteristik lingkungan Papua Pegunungan harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah penanganan. Pemerintah perlu memahami tantangan di lapangan agar solusi yang disiapkan dapat diterapkan secara efektif sesuai kebutuhan masyarakat.
“Namun, untuk itu perlu dipahami terlebih dahulu kondisi topografi dan lingkungan di sana. Setidaknya, perlu dicarikan solusi,” ujarnya.
Kabut asap akibat karhutla di Papua Selatan dan Merauke dilaporkan meluas hingga sejumlah wilayah Papua Pegunungan, seperti Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Wamena. Sejumlah titik api telah dilaporkan padam, sementara beberapa lokasi lainnya masih belum dapat dijangkau petugas.
Legislator Gerindra itu menekankan pentingnya langkah antisipasi agar gangguan penerbangan tidak berlarut-larut dan berdampak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan alternatif distribusi logistik dengan mempertimbangkan kondisi geografis serta keterbatasan akses transportasi di wilayah tersebut.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan bahan pangan, material bangunan, dan kebutuhan pokok lainnya bagi masyarakat Papua Pegunungan, terutama selama jalur udara masih terdampak kabut asap karhutla.